Selasa, 31 Mei 2016

Senandika

Dalam rinai hujan aku senandika
Menerawang masa ketaksaan
Masa engkau hendak minta diri tuk pergi
Dan mencaring janji yang terucap
Kepada siapa aku hendak berceritera
Kepada hujan yang menari-nari
Atau kepada angin yang berdesik perlahan
Tak ada... tak ada sesiapapun
Saya berdiri di sini sendiri
Mendengar alunan sang hujan
Yang seolah-olah menertawaiku
Dalam sedu sedan yang kurasa

Aku menghidu aromamu
Yang tersudut dalam lorong gelap
Seperti hendak mengedau derana
Dan meyakinkanku agar aku berdegap
Namun semua itu hanya angan semu
Lorong itu dikurung sepi
Bahkan tak ada sedersik anginpun

Hujan mengapa engkau datang
Bukankah dulu yang kutengok hanya gemintang
Atau arunika yang timbul di ufuk timur
Mengapa kini engkau yang datang
Telah bersusah hatikah bintang dan matahari
Atau ada sesuatu cabar di sana
Ingin rasanya aku melihat kembali gemintang dan arunika yang nirmala

Kasih.... yang dahulu saya panggilkan
Hendak membuat saya berkarut akan apalah akal saya lagi
Goresan dawat hitam yang terlukis haruskah saya hapuskan
Dan menggantinya dengan air mata darahku
Tidak... saya tak dapat mencarimu apalagi menerimamu
Engkau kasih yang dahulu saya panggilkan
Hanyalah seonggok daging yang mampu menusuk hati
Engkau berkerisau akan apa yang engkau visikan
Bukan... saya bukan hendak mengasam padamu
Tetapi hatiku telah terjelabak akan engkau

Kesakitanku tak hanya berikhbar pada gemintang dan matahari
Namun meminta hujan menemani masa kelamku
Di sini... di jendela kecilku
Kulihat hujan dan air mataku umpama candra mawa
Hitam putih tercampur saling terikat
Dan panjatnya doa agar pancarona berjewantah
Bahkan ia meminta menjadi belabas
Agar ia tak dapat dikurung duka dan dipupuk air mata macam saya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar