Selasa, 31 Mei 2016

Penantianku

Cinta begitulah adanya
Kemanisan cinta bak madu dikata orang
Pun nyatanya pahit laksana empedu Sebab kasih yang terikat hati hendak minta diri tuk pergi

Kadang ingin kuputar kembali roda waktu
Masa kita berbahagia bak dalam buaian syurga
Masa kita berucap dan saling mengikat janji suci
Agar cinta yang kita rekatkan bisa nyata jewantahnya
Kasih... semua itu kini tak dapat termakbul
Sebab engkau hendak pergi jauh dan mungkin tak kembali
Hatiku sakit bak ditusuk onak dan duri
Air mataku menetes tanda hati berkalut mati
Kakiku tak mampu lagi berdiri
Engkau sebagai tumpuan hidupku telah hilang

Kesedihanku tak berujung
Sebab kepergianmu tak hanya membuatku sakit
Tapi juga melemahkan hatiku
Kasih... penantianku sampai kumati Kalau engkau kembali diriku ada di sini di pembaringan ranjangku
Walau kutahu mungkin tak sampai umurku
Tapi dalam lelapku aku masih teringat akan dikau
Memegang gambarmu, janjimu, dan segala kenanganmu
Seiring detak jantung dan denting waktuku
Rasa cintaku akan engkau tak dapat terhapus
Sebab hal itu murni dan suci hanya untukmu
Kini aku hanya dapat menunggu kau kembali
Agar kita dapat selalu bersama sehidup semati

Senandika

Dalam rinai hujan aku senandika
Menerawang masa ketaksaan
Masa engkau hendak minta diri tuk pergi
Dan mencaring janji yang terucap
Kepada siapa aku hendak berceritera
Kepada hujan yang menari-nari
Atau kepada angin yang berdesik perlahan
Tak ada... tak ada sesiapapun
Saya berdiri di sini sendiri
Mendengar alunan sang hujan
Yang seolah-olah menertawaiku
Dalam sedu sedan yang kurasa

Aku menghidu aromamu
Yang tersudut dalam lorong gelap
Seperti hendak mengedau derana
Dan meyakinkanku agar aku berdegap
Namun semua itu hanya angan semu
Lorong itu dikurung sepi
Bahkan tak ada sedersik anginpun

Hujan mengapa engkau datang
Bukankah dulu yang kutengok hanya gemintang
Atau arunika yang timbul di ufuk timur
Mengapa kini engkau yang datang
Telah bersusah hatikah bintang dan matahari
Atau ada sesuatu cabar di sana
Ingin rasanya aku melihat kembali gemintang dan arunika yang nirmala

Kasih.... yang dahulu saya panggilkan
Hendak membuat saya berkarut akan apalah akal saya lagi
Goresan dawat hitam yang terlukis haruskah saya hapuskan
Dan menggantinya dengan air mata darahku
Tidak... saya tak dapat mencarimu apalagi menerimamu
Engkau kasih yang dahulu saya panggilkan
Hanyalah seonggok daging yang mampu menusuk hati
Engkau berkerisau akan apa yang engkau visikan
Bukan... saya bukan hendak mengasam padamu
Tetapi hatiku telah terjelabak akan engkau

Kesakitanku tak hanya berikhbar pada gemintang dan matahari
Namun meminta hujan menemani masa kelamku
Di sini... di jendela kecilku
Kulihat hujan dan air mataku umpama candra mawa
Hitam putih tercampur saling terikat
Dan panjatnya doa agar pancarona berjewantah
Bahkan ia meminta menjadi belabas
Agar ia tak dapat dikurung duka dan dipupuk air mata macam saya

Senin, 23 Mei 2016

Sudut Ilusi

Tersudut saya...
Duduk dalam gemburan tanah tebing
Melayang-layang kaki atau terpeluk tangan

Jauh kulihat mendekat
Milyaran zarah debu terbang memutar
Bersama warna jingga dan nila
Menghapus semua pandangan yang ada

Kini... hilang semua gravitasi
Pelukan kaki terlepas, pun tanah runtuh
Diri melayang bersama nila dan jingga
Pusing... terkantuk... tidur saya dalam putaran ilusi semu

Mata terbuka, kala diri tak tahu berada
Mematung melihat udara fatamorgana
Zarah debu, Zarah pasir, pasir debu, debu pasir
Ini lautan pasir! Bak gurun dikata orang

Kaki melangkah tak tahu kemana arah
Di mana nafas peradaban? Dalam tanda dan ciri alam
Tertatih-tatih dalam langkah getir
Sang Raja siang mengamuk, kulit melepuh serta dahaga mencekik
Sang mayat hidup berjalan
Mengapa di sini berada?
Bukan dalam cairan aspal iblis hitam
Atau air bening keramik Ratu Bilqis
Tetap melangkah dalam madahan angin

Kini... semua terlihat abnormal
Lautan pasir mengamuk menunjuk diri
Terobos ia atau mati terkoyak angin
Mata terpejam kaki terkubur
Kubur diri hingga diri terkubur
Kubur Kubur dalam damai